Karir

Saracen, Raup Ratusan Juta dari Beternak Kebencian

JAS, MFT dan SRN, 3 pentolan grup Saracen yang dibekuk polisi karena menyebarkan konten bermuatan kebencian dan SARA

Polisi berhasil menggulung sindikat Saracen — kelompok penyebar konten ujaran kebencian dan bermuatan SARA di sosial media berdasarkan pesanan. Kelompok ini beroperasi sejak November 2015. Polisi menjelaskan, motif di balik penyebaran konten hoax dan sentimen SARA murni ekonomi.

Kepala Subdit I Dittipid Siber Bareskrim Polri Kombes Pol Irwan Anwar mengatakan, para pelaku menyiapkan proposal untuk disebar kepada pihak pemesan.

“Dalam satu proposal yang kami temukan, itu kurang lebih setiap proposal nilainya puluhan juta (rupiah),” kata Irwan, Rabu (23/8/2017), seperti dikutip dari Kompas.com.

Biasanya konten sudah disiapkan terlebih dahulu oleh anggota grup tersebut. Konten tersebut baru diunggah ke media sosial ketika sudah ada kontrak dengan pemesan.

Dengan bersenjatakan ribuan akun sosial media yang mereka miliki, meme dan tulisan bermuatan kental ujaran kebencian dan SARA mereka upload ke dunia maya.

“Dalam kesehariannya mereka memproduksi yang akan mereka tawarkan,” kata Irwan.

JAS, MFT dan SRN, 3 pentolan grup Saracen yang dibekuk polisi karena menyebarkan konten bermuatan kebencian dan SARA

Lebih lanjut Irwan menjelaskan, modus aksi mereka melibatkan ribuan akun.  Misalnya 2.000 akun dibuat untuk mengunggah meme yang menjelek-jelekkan Islam. Dan 2.000 akun lainnya menjelek-jelekkan kristen.

“Itu yang kemudian tergantung pemesanan,” kata Irwan dalam Merdeka.com.

Setiap proyek busuk ujaran kebencian dan SARA nilainya bisa mencapai Rp100 juta.

“Dia menawarkan ya senilai Rp75 juta sampai Rp100 juta, itu atas proposal ya,” kata Kasubag Ops Satgas Patroli Siber Bareskrim Polri AKBP Susatyo Purnomo.

“Untuk itu banyak sekali pencemaran nama baik, yaitu kepada pejabat publik, tokoh masyarakat, dan sebagainya,” imbuh Susatyo.

Baca juga: Namanya Ada di Struktur Pengurus Dewan Penasihat Saracen, Ini Tanggapan Eggi Sudjana

Saat ini polisi masih mendalami pihak-pihak yang memesan konten atau artikel dari Saracen.

Tiga pentolan Saracen ditangkap pada waktu dan tempat yang berbeda. JAS (32), selaku ketua Saracen ditangkap di Pekanbaru, Riau, pada Senin (7/8).

JAS bertugas merekrut anggota. Ia juga membuat akun anonim sebagai pengikut grup dan berkomentar dengan nada provokatif pada setiap unggahan mereka.

MFT, ditangkap pada Jumat (21/7) di Koja, Jakarta Utara. Ia berperan sebagai koordinator bidang media. Tugasnya menyebarkan artikel bermuatan kebencian dan SARA, juga mengunggah meme ataupaun foto yang telah disunting. Selain itu, MFT pun membagikan ulang unggahan di Grup Saracen ke akun Facebook pribadinya.

Sementara SRN, alias Ny Sasmita yang ditangkap di Cianjur, Jawa Barat, Sabtu (5/8), merupakan koordinator di wilayah Jawa Barat. SRN bertugas  mengunggah konten penghinaan dan SARA.

“(Baik) menggunakan akun pribadi dan beberapa akun lain yang dipinjamkan oleh tersangka JAS,” kata Susatyo dilansir Liputan6.com.

Tangkapan layar akun Facebook Page Saracen Cyber News. (Foto: Istimewa /Facebook

Kabag Mitra Divisi Humas Polri Kombes Awi Setiyono mengungkapkan, hasil digital forensik Mabes Polri mendapati, Saracen menyebarkan ujaran kebencian lewat grup Facebook Saracen, Saracen Cyber Team, dan Saracennews.

“Hingga saat ini jumlah akun yang tergabung dalam jaringan grup Saracen berjumlah 800 ribu akun,” papar Awi seperti dipetik dari Kumparan.com.

Baca juga: Polisi Sinyalir Kelompok Saracen Garap Proyek Sebar Hoax dan SARA di Pilkada DKI

Grup Saracen merupakan salah satu dari kelompok yang dicari oleh Satgas Patroli Siber Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri.

Saat ini, penyidik masih terus melakukan pendalaman dan pengembangan terhadap berbagai akun email, akun facebook, juga para admin dalam jaringan grup Saracen yang masih aktif melakukan ujaran kebencian.

Dari penangkapan 3 pentolan Saracen, polisi menyita sejumlah barang bukti. Dari JAS, ada 11 akun surat elektronik (email) dan enam akun Facebook yang digunakan sebagai sarana untuk membuat grup dan mengambil alih akun orang lain.

Polisi juga menyita 50 Simcard, 5 hardisk CPU, 1 HD Laptop, 4 HP, 5 flashdisk, 2 memory card. Ada pula 5 simcard, 1 memory card, dan 1 HP Lenovo.

Barang bukti yag disita polisi dari penangkapan tiga pentolan grup Saracen

Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigjen Fadil Imran mengatakan kelompok Saracen itu memiliki struktur sebagaimana layaknya organisasi pada umumnya. Mereka bekerja dengan peran yang sudah dibagi.

Seluruh tersangka dijerat dengan pasal berlapis. JAS dikenakan tindak pidana ilegal akses sesuai Pasal 46 ayat 2 jo Pasal 30 ayat 2 dan atau Pasal 46 ayat 1 jo Pasal 30 ayat 1 UU ITE Nomor 19 tahun 2016. Ancamannya 7 tahun penjara.

MFT dikenakan tindak pidana ujaran kebencian atau hate speech dengan konten SARA sesuai Pasal 45A ayat 2 jo Pasal 28 ayat 2 UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang ITE dengan ancaman 6 tahun penjara. Juga Pasal 45 ayat 3 jo Pasal 27 ayat 3 UU ITE dengan ancaman 4 tahun penjara.

SRN, anggota Saracen yang ikut diciduk polisi

Sementara SRN dijerat tindak pidana ujaran kebencian atau hate speech dengan konten SARA sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45A ayat 2 jo Pasal 28 ayat 2 UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan UU ITE dengan ancaman 6 tahun penjara, dan atau Pasal 45 ayat 3 jo Pasal 27 ayat 3 UU ITE dengan ancaman 4 tahun penjara.

Dengan adanya pengungkapan kasus ini, menurut Irwan, menunjukkan bahwa terdapat kelompok-kelompok yang provokatif dan intoleran sehingga masyarakat perlu waspada, berinternet secara merdeka dan bermartabat untuk mencegah disintegrasi bangsa.

 

Tags : HoaxSaracen
close